يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً 

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (As Sunah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik untuk kalian dan lebih bagus hasilnya.”

(QS. An Nisaa’ [4]: 59)

Kamis, 25 Oktober 2012

Syeikh Kepala Ikan


Seorang nelayan yang Sholeh di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, setiap hari menjala ikan sambil berdzikir kepada Tuhan-nya. ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar yang Sufi , Syeikh Muhyiddin Ibnu 'Arabi RA. Seiring dengan berlalunya waktu, ia belajar dan sangat bersungguh-sungguh, ia pun dipercaya oleh Guru nya untuk menjadi seorang perwakilan Guru nya di daerahnya, dia menjadi seorang syaikh. Karena dia terkenal selalu makan hanya kepala ikan saja, maka dia pun di kenal sebagai ‘Syeikh Kepala Ikan’.

Suatu saat, salah seorang murid Syeikh kepala ikan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Syeikh Kepala Ikan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar Ibn Arabi. Kemudian syeikh itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya dari Gurunya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.

Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi, dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana. Dalam bayangan si murid, gurunya sang Syeikh Kepala ikan sangatlah zuhud, tinggal di gubuk dan hanya memakan kepala ikan saja, maka pastilah Syeikh al akbar Ibn Arabi lebih zuhud, lebih miskin lagi. Menurutnya Zuhud adalah meninggalkan dunia dalam arti zahir.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan walaupun hanya dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.

Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid syeikh kepala ikan lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. kemudian Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Gurunya, syeikh kepala ikan ingin meminta nasihat dari Syeikh Ibn Arabi. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, "Katakanlah pada gurumu, masalah yang ada pada Guru mu adalah, ia masih terlalu terikat kepada dunia. Suruh dia melepaskan dunia secara keseluruhan, dan tinggal lah bersama Allah dan Rasul-Nya saja."

Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, Syeikh kepala ikan pun  dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan Sang Guru, syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu???,” tanya Syeikh Kepala ikan, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannyadan sangat mewah yang  ia lihat dari kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri, sang Syeikh kepala ikan.

Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, Syeikh Kepala ikan itu berurai air mata. Muridnya tambah bingung dan heran, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab Syeikh Kepala Ikan, “ia Syeikh Al Akbar Ibn Al Arabi benar-benar tak pernah peduli dengan semua yang ada padanya. Yang datang dan yang pergi, yang di miliki dan yang hilang darinya, semua dia anggap sebagai titipan saja, dia jaga sewaktu ada bersamanya, dan dia tak sesali saat apa saja pergi dan hilang darinya. Dia tak mengejar dunia dengan hatinya, dia mengambil dunia untuk sarana dia berdakwah saja, untuk menjaga keluarganya, dan untuk mensejahterakan ummat. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh. aku selalu saja membayang-bayangkan rasanya daging ikan yang utuh".





JELATANG 


 Salam Penuh Cinta Untuk Semua PeCinta-Nya

Selasa, 03 April 2012

Sekilas Tentang Azazil


“Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Kami berfirman kepada malaikat: Sujudlah kamu kepada AdaM, lalu mereka sujud melainkan iblis, dia adalah berasal dari golongan jin…” (Qs. Al-Kahf: 50)

Iblis pada awalnya bernama Azazil dan tinggal di bumi. Azazil adalah makhluk yang taat kepada Allah. Dia menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah swt mengangkatnya ke langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah swt selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam para malaikat.

Azazil adalah imam kepada kepada seluruh malaikat. Ibadahnya kepada Allah banyak. Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah kepada Allah selama 80,000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak dijadikan tempat sujudnya ke hadrat Allah.

Dalam sebuah riwayat menceritakan, malaikat Israfil melihat yang tersurat di Lauh Mahfuz ada tercatat :
“Adanya satu hamba Allah yang beribadah selama 80,000 tahun tetapi hanya kerana satu kesalahan, maka ibadah hamba itu tidak diterima Allah dan hamba itu terlaknat sehingga hari Kiamat”

Maka menangislah Israfil karena bimbang setelah membaca tentang makhluk yang tersurat di Lauh Mahfuz itu. Khawatir bahwa makhluk itu adalah dirinya. Maka diceritakanlah oleh Israfil kepada semua malaikat tentang pengalamannya melihat apa yang tersurat di Lauh Mahfuz. Maka menangislah sekalian malaikat karena takut dan bimbang akan nasib mereka. Lalu semua malaikat datang menemui Azazil yang menjadi imam para malaikat,  memintagar Azazil mendoakan keselamatan dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat. 

Azazil pun mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat dengan doa :
“Ya Allah, Janganlah ENGKAU murka terhadap mereka (para malaikat)”
Tapi Azazil lupa untuk mendoakan keselamatan untuk dirinya. Selepas mendoakan semua malaikat, Azazil terus menuju ke surga. Di atas pintu surga, Azazil melihat suratan tentang :
“Ada satu hamba dari kalangan hamba-hamba Allah yang muqarrabin yang telah diperintahkan Allah untuk mengerjakan suatu tugas, tapi hamba tersebut mengingkari perintah Allah. Lalu dia tergolong dalam golongan yang sesat dan terlaknat”

Lalu Allah Menciptakan Adam AS, dan memerintahkan malaikat untuk sujud menghormat kepada Adam AS. Azazil, sebagai imam para malaikat, sepatutnya lebih dulu bersujud memimpin para malaikat. Tetapi, dia menolak, karena dia merasa bahwa dirinya lebih baik dari pada Adam AS. Sementara para malaikat lain sujud tanpa dipimpin oleh Azazil.

Bukan saja dia enggan sujud, bahkan Azazil sombong dan menjawab kepada Allah :
“Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Kami berfirman kepada malaikat:Sujudlah kamu kepada Adam; maka mereka sujud, melainkan iblis; dia berkata: Patutkah aku sujud kepada (makhluk) yang Engkau jadikan dari tanah?” (QS. Israa: 61)

Keengganan sujud ini terlahir dari hasad dengki iblis Azazil, yang irihati apabila Allah hendak mengangkat Nabi Adam sebagai khalifah di bumi kerana ia dijadikan dari api sedangkan Adam AS dijadikan dari tanah yang busuk dan melekat. Ia durhaka kepada Allah, takabur dan lupa diri.

Maka tersingkirlah Azazil dari surga. Namanya diubah menjadi Iblis. Apabila Iblis diturunkan ke bumi, dia berjanji akan menyesatkan manusia serta seluruh keturunannya.

“Dia berkata lagi: Khabarkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan mengatasiku? Jika Engkau beri tempoh kepadaku hingga hari kiamat, tentulah aku akan memancing menyesatkan zuriat keturunannya, kecuali sedikit (di antaranya) (QS. Israa: 62)

“Allah berfirman (kepada iblis): Pergilah (lakukanlah apa yang engkau rancangkan)! Kemudian siapa yang menurutmu di antara mereka, maka sesungguhnya Neraka Jahanamlah balasan kamu semua, sebagai balasan yang cukup.” (QS. Israa: 63)

JELATANG


 Salam Penuh Cinta Untuk Semua PeCinta-Nya